Tuesday, September 16, 2008

Kajian Perburuan & Perdagangan Satwa

Dengan metode investigasi yang telah dilakukan teman2 Tim Investgasi, suatu kesimpulan kondisi perburuan & perdagangan satwa di Randublatung yang dapat diungkapkan antara lain :

Perburuan
Pemburu satwaliar di dominan oleh masyarakat dari daerah sekitar hutan wilayah KPH Randublatung, utamanya warga dari kecamatan yang langsung berdekatan dengan hutan seperti Kecamatan Randublatung, Jati Doplang, Gabus, Sulursari dan Banjarejo.

Pelaku perburuan satwaliar secara umum memiliki pekerjaan pokok sebagai petani. Kegiatan perburuan dilakukan hanya sebagai tambahan ekonomi dan hobby dan sudah dilakukan selama lebih dari 5 tahun.
Jenis-jenis satwaliar yang dilindungi paling sering diburu :
Mamalia : kijang (Munticus muntjak), babi hutan (Sus scrofa)
Aves : tekukur (Streptopelia chinensis), perkutut (Geopelia striata), kutilang (Pycnonotus aurigaster)
Reptilia : biawak (Varanus salvator ).

Para pelaku perburuan sebagian besar tidak mengetahui jenis-jenis satwaliar yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan CITES Appendix I, II dan III.

Perdagangan
Pedagang satwaliar secara umum memiliki pekerjaan pokok sebagai petani. Kegiatan perburuan dilakukan hanya sebagai tambahan ekonomi dan hobby dan sudah dilakukan selama lebih dari 5 tahun.
Asal satwaliar yang diperdagangkan sebagian besar dari hasil buruan sendiri.

Jenis-jenis satwaliar yang dilindungi paling sering diperdagangkan :
Mamalia : kijang (Munticus muntjak), babi hutan (Sus scrofa)
Aves : kutilang (Pycnonotus aurigaster), perkutut (Geopelia striata), kacer (Copsychus saularis), glatik jawa (Padda oryzivora), jalak hitam (Acridotheres javanicus) ayam hutan (Gallus varius)
Reptilia : biawak (Varanus salvator)

Yang Mesti Dilakukan Ke Depan
Pelaksanaaan monitoring kontinyu dan konsisten yang memantau kegiatan perburuan dan perdagangan satwa liar.

Upaya-upaya pengendalian terhadap kegiatan perburuan dan perdagangan satwaliar, antara lain dengan upaya pencegahan, serta dengan meningkatkan kualitas SDM baik dari pihak Perhutani sendiri maupun pihak di luar Perhutani.

Monday, September 15, 2008

Randublatung Berbunga



Lumayan menyejukkan, ditengah pucak kemarau Randblatung berbunga yang gerah-panas-terik berapa bunga dan pohon di depan kantor berbunga. Kuning-merah-bougenville-anonim. Indah-bagus-kemilau-asri..sekedar dapat menyejukkan mata dari warna gerah kemarau.
Walau nama pohon ini saya tidak tahu, ... apalah arti sebuah nama. Bunga kuning berbunga merata hampir pada semua ujung daun.

Friday, September 12, 2008

Species Interest Randblatung


There're 5 species interest in Randublatung FMU. Here there're :
1. Jelarang bilalang (Ratufa affinis)
2. Merak (Pavo munticus)
3. Kijang (Muntiacus muntjak)
4. Elang bido ( Spilornis cheela)
5. Biawak (Varanus savaltor)
It's all about forest matter...obut life!! D U believe??

Monday, September 1, 2008

HCVF RANDUBLATUNG

Berdasarkan substansinya enam atribut HCVF sebagaimana dideskripsikan oleh FSC dikelompokkan ke dalam dua bidang kajian nilai yaitu (A) Nilai-nilai ekologis dan (B) Nilai-nilai sosial. Hasil identifikasi keberadaan HCVF telah dilakukan KPH Randublatung dengan TFT (Tropical Forest Trust) dengan melibatkan justifikasi akademisi.

A. Kajian nilai-nilai ekologis

1. HCV1

1.1 Unit managemen berada dalam atau diusulkan sebagai hutan lindung?.

· Cagar Alam Bekutuk mempunyai luas 25,4 Ha, cagar alam dengan vegetasi hutan alam jati. Kewenangan pengelolaan berada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Departemen Kehutanan berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.79/Menhut-II/2004 tentang Penetapan Kawasan Hutan Bekutuk. Guna mendukung pengelolaan habitatnya KPH Randublatung menetapkan zone penyangga seluas 328,8 ha.

· Kawasan Perlindungan Plasmanutfah petak 31 BKPH Boto seluas 25,3 ha dengan dominasi tegakan jati yang ditanam pada tahun 1960 dengan kenampakan vegetasi mendekati hutan alam sekunder dengan zone penyangga kawasan seluas 225,7 ha.

· Kawasan Perlindungan Plasmanutfah petak 84a BKPH Pucung seluas 34,2 ha dengan dominasi tegakan jati yang ditanam pada tahun 1935 dengan kenampakan vegetasi mendekati hutan alam sekunder dengan zone penyangga kawasan seluas 174,1 ha.

1.2 Unit managemen berisi (mungkin) spesies langka, terancam dan hampir punah?.

· Kelas mamalia sebanyak 8 jenis yaitu :.jelarang bilalang (Ratufa affinis), codot pisang coklat (Macroglossus minimus), musang belang (Paguma lavarta), kijang (Muntiacus muntjak), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), garangan ekor panjang (Herpestes semitorquatus), bajing terbang hitam (Aeromys tephromelas), luwak kembang (Paradoxurus hermaproditus).

· Kelas aves sebanyak 14 jenis satwa langka, yaitu kuntul putih (Bulbulcus ibis), glatik jawa (Padda orzyzivora), elang bido (Splilornis cheela), merak (Pavo muticus), pungklor (Pitta guajava), burung hantu (Otus lempiji), betet (Psittacula alexandri), elang ular jari pendek (Circaetus gallicus), bangau tong tong (Leptoptilos javanicus), bangau sendang lawe (Ciconia episcopus), alap-alap capung (Microhierax frigillarius), kangkareng perut putih (Anthracoceros albitrotris), alap-alap layang (Falco cenchoides), sikatan/kipasan belang (Rhipidura javanica).

· Kelas reptil amfibi sebanyak 3 jenis satwa langka, yaitu katak bencok (Huaia masonii), biawak (Varanus salvator) dan katak pohon jawa (Rachophorus javanus).

1.4 Unit managemen Hutan berisi habitat kritis, jalur atau lokasi tujuan migrasi, atau konsentrasi spesies semusim?.

Kawasan Sumber Lumpur Kesongo merupakan kawasan hutan seluas 105,9 ha di BKPH Trembes dengan keunikan perpaduan hamparan hutan rawa tentatif dan savana serta sumber lumpur. Kawasan tersebut merupakan sarang 19 jenis aves dan lokasi migrasi burung kuntul putih (Bulbucus ibis), bangau tongtong (Leptotilos javanicus), belibis batu (Dendrocygna javanica), bambangan merah (Ixopbrychus cinnamomeus) dan cangak merah (Ardea purpurea). Zone penyangga kawasan ini seluas 707,2 ha.

2. HCV2

2.3. Unit Manajemen Hutan mempunyai populasi spesies yang ada secara alami dalam jumlah yang layak?

Berdasarkan survey biodiversity telah ditentukan 6 (enam) species interest yaitu jelarang bilalang (Ratufa affinis), kuntul putih (Bubulcus ibis), biawak (Varanus salvator), merak (Pavo muticus) dan elang bido (Spilornis cheela).

3. HCV3

3.1 Unit managemen hutan berisi ekosistem langka, terancam, dan hampir punah?.

Kawasan Rawa Kesongo merupakan hamparan ekosistem rawa seluas kurang lebih 5,0 ha. Kawasan tersebut juga merupakan sarang berbagai 19 jenis aves dan lokasi migrasi berbagai jenis aves.

Kawasan Savana Kesongo adalah adalah komunitas tumbuhan yang bersekala regional dan merupakan suatu komunitas antara. Struktur ekosistemnya tersusun atas pohon-pohon yang menyebar dengan kanopi yang terbuka sehingga memungkinkan rumput untuk tumbuh di lantai komunitas. Savana di Pulau Jawa termasuk dalam kategori ekosistem RTE. Dalam atribut HCVF, savana termasuk dalam kategori HCV3.

4. HCV4

4.1 Unit Managemen Hutan menyediakan pasokan utama kebutuhan air minum?

Lokasi menjadi sumber air di kawasan KPH Randublatung adalah kawasan Sendang Wedok (petak 68 a RPH Sumengko BKPH Boto), Sendang Kuwung (petak 123 c RPH Menden BKPH Beran), Sendang Salak (petak 123 a RPH Trembes BKPH Temuireng), Mata Air Banyuasin (petak 22 g RPH Banyuasin BKPH Ngliron) dan Sendang Apit (petak 14 d RPH Sugih BKPH Boto) dan Mata Air Delok (petak 51a RPH Delok BKPH Tanggel).

4.2 Unit Managemen Hutan memiliki bagian yang sangat penting akan area tangkapan air?.

KPH Randublatung termasuk dalam 2 wilayah tangkapan DAS yaitu DAS Solo (Sub DAS Wulung) seluas 29.184,3 ha (91,5%) dan DAS Serang (Sub DAS Medang) seluas 2.714,9 ha (8,5%).

B. Kajian nilai-nilai sosial

1. HCV4

4.1 Unit Managemen Hutan menyediakan pasokan utama kebutuhan air minum?

Penjelasan seperti pada kajian ekologis poin 4.1.

2. HCV5

5.1 Masyarakat lokal menggunakan Unit Managamen Hutan untuk pemenuhan kebutuhan dasar atau mata pencaharian. Ya

Beberapa nilai yang dianggap penting untuk memberikan dukungan kehidupan terhadap masyarakat sekitar (proses full assesmen masih berjalan) antara lain sistem tanam tumpangsari, pemenuhan kebutuhan kayu bakar dan hijauan makanan ternak

3. HCV 6

6.2 Masyarakat setempat menganggap bahwa hutan merupakan bagian yang sangat penting.

KPH Randublatung terdapat 12 situs, situs-situs ini sudah menjadi milik masyarakat umum dan bukan menjadi milik khusus masyarakat adat antara lain situs Pertapan Kesongo (BKPH Trembes), Jati Denok (BKPH Temanjang), Pertapan Mundu (BKPH Boto), Manganan (BKPH Temanjang), Kedung Putri (BKPH Temanjang), Balekambang (BKPH Temanjang), Pertapan Ngreco(BKPH Beran) dan Kuburan Kuwung (BKPH Boto). Situs-situs ini termasuk dalam HCV 6 terkait dengan nilai relegi, sosial-budaya dan ekologi sebagaian masyarakat. Situs-situs ini dalam konteks perlindungan areal sudah diidentifikasi, diberi tata batas secara permanen, dilindungi oleh managemen KPH Randublatung dan sudah diakomodasi oleh prinsip 3.3.